Di daerah
Andalusia bagian selatan Spanyol, masih dapat ditemui sisa-sisa peradaban Islam
yang pernah berkuasa, contohnya di daerah Córdoba. Pada abad kedelapan, Masjid
Agung Córdoba (the Mezquita), yang saat ini juga dikenal Katedral Katolik Roma,
menjadi kebanggaan arsitektur muslim di negara barat pada masa itu. Mesjid ini
dibangun diatas tanah gereja St Vincent setelah dibeli dari komunitas Kristen
setempat sebelum dimusnahkan. Menjadi monumen yang paling hebat dari Dinasti
Umayyah, dimana ibukota Al-Andalusia berada di Cordoba.
Masjid ini
dibangun oleh Khalifah Bani Umayyah yang bernama Abdurrahman III. Masjid ini
memiliki seni arsitektur yang tinggi dan indah. Tinggi menaranya 40 hasta di
atas batang-batang kayu berukir dan ditopang oleh 1293 tiang yang terbuat dari
berbagai macam marmer bermotif papan catur. Di sisi selatan tampak 19 pintu
berlapiskan perunggu dengan kreasi yang sangat menakjubkan. Sementara pintu
tengahnya berlapiskan lempeng-lempeng emas. Panjang Masjid Cordoba dari utara
ke selatan mencapai 175 meter dan lebarnya dari timur ke barat 134 meter.
Sedangkan tingginya mencapai 20 meter.
Bangunan mesjid
ini paling dikenal karena adanya ornament lengkungan kurva raksasa yang
menghubungkan pilar. Sebanyak 900 pilar dengan bahan jasper, onyx, marmer dan
granit, memberikan nuansa yang sangat indah di dalam mesjid. Ornamen ini juga
biasa dikenal oleh para arsitek lain sebagai “lengkung tapal kuda”. Inovasi dan
estetika murni dari batu bata ini menciptakan pola bergaris-garis putih merah
yang memberikan kesatuan dan karakter khusus dengan seluruh desain.
Pada jantung
mesjid ini terdapat Mihrab, tempat dimana imam memimpin sholat yang menghadap
ke kiblat (Mekkah). Berbentuk cekungan langit-langit yang diukir dari blok
marmer dan ruang-ruang di kedua sisinya dihiasi dengan mosaik Byzantium indah
dari emas. Di sekeliling mihrab terukir dengan tinta emas dan biru 99 nama-nama
asma Allah SWT. Bangunan masjid ini sangat kokoh dan tahan gempa, bahkan pada
gempa keras yang pernah terjadi tahun 1793 (gempa bumi Lisabon) tidak ada
sedikitpun keretakan yang terjadi. Sedangkan bangunan Kathedral dalam bagian
masjid ini didirikan pada awal abad ke-13 masehi telah mengalami keretakan yang
saat ini masih dapat terlihat.
Keagungan masjid
ini mencerminkan kemakmuran dan kesejahteraan Negara tersebut. Cordoba pada
saat itu menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, dan ibu kota kekhalifahan
Bani Umayyah. Saat itu, terdapat 170 wanita yang berprofesi sebagai penulis
kitab suci al-Quran dengan huruf Kufi yang indah. Anak-anak fakir miskin pun
bisa belajar secara gratis di sekolah yang disediakan Khalifah. Aktivitas di
masjid begitu semarak. Tak heran, jika pada malam hari, masjid itu diterangi
4.700 buah lampu yang menghabiskan 11 ton minyak pertahun.
Setiap tahun
perpustakaan Masjid Cordoba dikunjungi oleh lebih dari 400.000 orang. Jumlah
ini sangat jauh berbeda dengan kunjungan orang-orang di
perpustakaan-perpustakaan Eropa yang hanya mencapai 1000 orang pertahunnya.
Perpustakaan Masjid Cordoba tidak hanya dikunjungi oleh muslim, tetapi juga
non-muslim.
Masjid Cordoba
telah menghasilkan ulama dan ilmuwan-ilmuwan besar yang dikenang sepanjang
masa. Beberapa di antaranya:
· Ibnu Rusyd: ahli fikih penulis kitab Bidayatul
Mujtahid dan juga filosof dan dokter ternama.
· Ibnu
Hazm: ahli fikih penulis kitab al-Muhalla, sastrawan, dan juga pakar studi
perbandingan agama.
· Al-Qurthubi: ahli tafsir penulis kitab Tafsir
al-Qurthubi.
·
Ibnu Bajjah: ahli matematika ternama.
· Al-Ghafiqi: ahli botani ternama.
· Ibnu Thufayl: ahli kedokteran dan filosof
ternama.
· Al-Idrisi: seorang kartografer dan geographer
ternama.
· Ibnu Farnas: peletak dasar penciptaan pesawat
terbang.
· Al-Zahrawi: ahli bedah yang telah menciptakan
alat-alat bedah.
· Ibnu Zuhr: dokter ahli jantung ternama.
Namun sayang,
sejak ditaklukkan oleh Raja Leon Alfonso VII yang Kristen, masjid ini dirubah
fungsinya menjadi sebuah gereja. Pada awal abad ke-13, kekhalifahan Bani
Umayyah tidak dapat mengatasi serbuan bangsa Eropa yang datang dari Utara maka
Cordoba ditaklukkan, termasuk masjid ini ikut diduduki. Kemudian beberapa tiang
dihancurkan dan di dalam bangunan masjid didirikan kathedral yang diberi nama
Cathedral Mezquita (Katedral Masjid). Pada beberapa dinding masjid saat ini
terlihat lambang-lambang non muslim. Hari ini, di masjid yang didirikan oleh kekhalifahan
Bani Umayyah itu, tak ada lagi panggilan adzan. Suaranya berganti menjadi bunyi
lonceng gereja. Masjid itu sekarang menjadi katedral Katolik, dan dimanfaatkan
untuk melakukan misa harian. Di banyak lokasi diberi pengumuman: dilarang
melakukan shalat di tempat itu.
Tetapi Muslim di
Spanyol kini giat berkampanye untuk diizinkan beribadah bersama orang-orang
Kristen di Cordoba Cathedral, yang sebelumnya merupakan Masjid Agung Cordoba
yang sangat bersejarah itu. Masjid Kordoba pernah terkenal karena memungkinkan
baik Kristen dan Muslim untuk berdoa bersama di bawah satu atap.
Sekarang,
beberapa umat Islam mencoba untuk mengulang sejarah itu. Mansur Escudero,
seorang Spanyol pemeluk Islam, memimpin gerakan yang menuntut hak Muslim untuk
berdoa di Katedral Cordoba. “Saya tidak
berpikir bahwa penting bagi umat Islam. Saya pikir, tempat itu penting bagi
setiap orang di Spanyol,” kata Escudero. “Kami pikir ini adalah paradigma yang
indah tentang toleransi, pengetahuan, budaya. Orang-orang dari agama yang
berbeda hidup bersama.”
Spanyol memiliki
lebih dari satu juta umat Islam, dua persen dari jumlah penduduk. Sebagian
besar bahwa pertumbuhan terdiri dari pendatang dari negara-negara seperti
Maroko. Tapi di negara Eropa selatan ini, jumlah mualaf juga terus meningkat.
Pada bulan
April, lebih dari seratus Muslim menggelar aksi protes dengan membuka gulungan
karpet di dalam situs dan mulai berdoa. Aparat keamanan mengusir mereka dengan
kekerasan dan dua orang ditangkap.
Menurut Uskup
Cordoba, Demetrio Fernandes, insiden ini menunjukkan tidak mungkin untuk
berbagi sebuah rumah ibadah. “Ini akan seperti berbagi istri antara dua suami,
” katanya pada CNN. “Apakah mereka
akan senang untuk melakukan hal yang sama di masjid mereka?” ia bertanya. “Sama
sekali tidak. Karena aku mengerti perasaan keagamaan mereka dan mereka harus
memahami kita juga. Perasaan religius adalah satu terdalam dalam hati manusia,
sehingga tidak mungkin untuk berbagi.”
Uskup Fernandes
menunjuk ke basilika San Juan di Damaskus sebagai contoh sebuah situs Kristen
yang telah diubah menjadi masjid. “Kita tidak akan berpikir untuk meminta
Masjid Damaskus, karena itu milik umat Islam dan bagi mereka itu adalah tempat
yang melambangkan sesuatu,” ujarnya.
Namun Escudero
menegaskan ini bukan tentang kemenangan untuk satu agama atau yang lain.
“Mereka berpura-pura bahwa kita mencoba menaklukkan masjid lagi. Bukan begitu
maksudnya. Kami ingin katedral Cordoba menjadi tempat di mana orang – baik
Muslim, Kristen, atau Yahudi – dapat melakukan meditasinya atau menyembah atau
berdoa atau apa pun mereka masing-masing menyebutnya. ”
Setelah membaca
sejarah tersebut, saya sebagai seorang muslim turut berdoa semoga larang itu segera
dihapuskan dan seluruh kaum muslim dari berbagai belahan dunia yang berkunjung
dapat kembali shalat di Masjid Agung
Cordoba, seperti yang kini masih diperjuangkan oleh kaum Muslim Spanyol.
Sumber :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar