24 Des 2013

wooow mesjid agung cordoba



 Di daerah Andalusia bagian selatan Spanyol, masih dapat ditemui sisa-sisa peradaban Islam yang pernah berkuasa, contohnya di daerah Córdoba. Pada abad kedelapan, Masjid Agung Córdoba (the Mezquita), yang saat ini juga dikenal Katedral Katolik Roma, menjadi kebanggaan arsitektur muslim di negara barat pada masa itu. Mesjid ini dibangun diatas tanah gereja St Vincent setelah dibeli dari komunitas Kristen setempat sebelum dimusnahkan. Menjadi monumen yang paling hebat dari Dinasti Umayyah, dimana ibukota Al-Andalusia berada di Cordoba.

Masjid ini dibangun oleh Khalifah Bani Umayyah yang bernama Abdurrahman III. Masjid ini memiliki seni arsitektur yang tinggi dan indah. Tinggi menaranya 40 hasta di atas batang-batang kayu berukir dan ditopang oleh 1293 tiang yang terbuat dari berbagai macam marmer bermotif papan catur. Di sisi selatan tampak 19 pintu berlapiskan perunggu dengan kreasi yang sangat menakjubkan. Sementara pintu tengahnya berlapiskan lempeng-lempeng emas. Panjang Masjid Cordoba dari utara ke selatan mencapai 175 meter dan lebarnya dari timur ke barat 134 meter. Sedangkan tingginya mencapai 20 meter. 

Bangunan mesjid ini paling dikenal karena adanya ornament lengkungan kurva raksasa yang menghubungkan pilar. Sebanyak 900 pilar dengan bahan jasper, onyx, marmer dan granit, memberikan nuansa yang sangat indah di dalam mesjid. Ornamen ini juga biasa dikenal oleh para arsitek lain sebagai “lengkung tapal kuda”. Inovasi dan estetika murni dari batu bata ini menciptakan pola bergaris-garis putih merah yang memberikan kesatuan dan karakter khusus dengan seluruh desain.

Pada jantung mesjid ini terdapat Mihrab, tempat dimana imam memimpin sholat yang menghadap ke kiblat (Mekkah). Berbentuk cekungan langit-langit yang diukir dari blok marmer dan ruang-ruang di kedua sisinya dihiasi dengan mosaik Byzantium indah dari emas. Di sekeliling mihrab terukir dengan tinta emas dan biru 99 nama-nama asma Allah SWT. Bangunan masjid ini sangat kokoh dan tahan gempa, bahkan pada gempa keras yang pernah terjadi tahun 1793 (gempa bumi Lisabon) tidak ada sedikitpun keretakan yang terjadi. Sedangkan bangunan Kathedral dalam bagian masjid ini didirikan pada awal abad ke-13 masehi telah mengalami keretakan yang saat ini masih dapat terlihat.

Keagungan masjid ini mencerminkan kemakmuran dan kesejahteraan Negara tersebut. Cordoba pada saat itu menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, dan ibu kota kekhalifahan Bani Umayyah. Saat itu, terdapat 170 wanita yang berprofesi sebagai penulis kitab suci al-Quran dengan huruf Kufi yang indah. Anak-anak fakir miskin pun bisa belajar secara gratis di sekolah yang disediakan Khalifah. Aktivitas di masjid begitu semarak. Tak heran, jika pada malam hari, masjid itu diterangi 4.700 buah lampu yang menghabiskan 11 ton minyak pertahun.

Setiap tahun perpustakaan Masjid Cordoba dikunjungi oleh lebih dari 400.000 orang. Jumlah ini sangat jauh berbeda dengan kunjungan orang-orang di perpustakaan-perpustakaan Eropa yang hanya mencapai 1000 orang pertahunnya. Perpustakaan Masjid Cordoba tidak hanya dikunjungi oleh muslim, tetapi juga non-muslim.
Masjid Cordoba telah menghasilkan ulama dan ilmuwan-ilmuwan besar yang dikenang sepanjang masa. Beberapa di antaranya:
·     Ibnu Rusyd: ahli fikih penulis kitab Bidayatul Mujtahid dan juga filosof dan dokter ternama.
·   Ibnu Hazm: ahli fikih penulis kitab al-Muhalla, sastrawan, dan juga pakar studi perbandingan agama.
·    Al-Qurthubi: ahli tafsir penulis kitab Tafsir al-Qurthubi.
·     Ibnu Bajjah: ahli matematika ternama.
·    Al-Ghafiqi: ahli botani ternama.
·     Ibnu Thufayl: ahli kedokteran dan filosof ternama.
·    Al-Idrisi: seorang kartografer dan geographer ternama.
·     Ibnu Farnas: peletak dasar penciptaan pesawat terbang.
·   Al-Zahrawi: ahli bedah yang telah menciptakan alat-alat bedah.
·    Ibnu Zuhr: dokter ahli jantung ternama.

Namun sayang, sejak ditaklukkan oleh Raja Leon Alfonso VII yang Kristen, masjid ini dirubah fungsinya menjadi sebuah gereja. Pada awal abad ke-13, kekhalifahan Bani Umayyah tidak dapat mengatasi serbuan bangsa Eropa yang datang dari Utara maka Cordoba ditaklukkan, termasuk masjid ini ikut diduduki. Kemudian beberapa tiang dihancurkan dan di dalam bangunan masjid didirikan kathedral yang diberi nama Cathedral Mezquita (Katedral Masjid). Pada beberapa dinding masjid saat ini terlihat lambang-lambang non muslim. Hari ini, di masjid yang didirikan oleh kekhalifahan Bani Umayyah itu, tak ada lagi panggilan adzan. Suaranya berganti menjadi bunyi lonceng gereja. Masjid itu sekarang menjadi katedral Katolik, dan dimanfaatkan untuk melakukan misa harian. Di banyak lokasi diberi pengumuman: dilarang melakukan shalat di tempat itu.

Tetapi Muslim di Spanyol kini giat berkampanye untuk diizinkan beribadah bersama orang-orang Kristen di Cordoba Cathedral, yang sebelumnya merupakan Masjid Agung Cordoba yang sangat bersejarah itu. Masjid Kordoba pernah terkenal karena memungkinkan baik Kristen dan Muslim untuk berdoa bersama di bawah satu atap.

Sekarang, beberapa umat Islam mencoba untuk mengulang sejarah itu. Mansur Escudero, seorang Spanyol pemeluk Islam, memimpin gerakan yang menuntut hak Muslim untuk berdoa di Katedral Cordoba. “Saya tidak berpikir bahwa penting bagi umat Islam. Saya pikir, tempat itu penting bagi setiap orang di Spanyol,” kata Escudero. “Kami pikir ini adalah paradigma yang indah tentang toleransi, pengetahuan, budaya. Orang-orang dari agama yang berbeda hidup bersama.”

Spanyol memiliki lebih dari satu juta umat Islam, dua persen dari jumlah penduduk. Sebagian besar bahwa pertumbuhan terdiri dari pendatang dari negara-negara seperti Maroko. Tapi di negara Eropa selatan ini, jumlah mualaf juga terus meningkat.

Pada bulan April, lebih dari seratus Muslim menggelar aksi protes dengan membuka gulungan karpet di dalam situs dan mulai berdoa. Aparat keamanan mengusir mereka dengan kekerasan dan dua orang ditangkap.

Menurut Uskup Cordoba, Demetrio Fernandes, insiden ini menunjukkan tidak mungkin untuk berbagi sebuah rumah ibadah. “Ini akan seperti berbagi istri antara dua suami, ” katanya pada CNN. “Apakah mereka akan senang untuk melakukan hal yang sama di masjid mereka?” ia bertanya. “Sama sekali tidak. Karena aku mengerti perasaan keagamaan mereka dan mereka harus memahami kita juga. Perasaan religius adalah satu terdalam dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin untuk berbagi.” 

Uskup Fernandes menunjuk ke basilika San Juan di Damaskus sebagai contoh sebuah situs Kristen yang telah diubah menjadi masjid. “Kita tidak akan berpikir untuk meminta Masjid Damaskus, karena itu milik umat Islam dan bagi mereka itu adalah tempat yang melambangkan sesuatu,” ujarnya.

Namun Escudero menegaskan ini bukan tentang kemenangan untuk satu agama atau yang lain. “Mereka berpura-pura bahwa kita mencoba menaklukkan masjid lagi. Bukan begitu maksudnya. Kami ingin katedral Cordoba menjadi tempat di mana orang – baik Muslim, Kristen, atau Yahudi – dapat melakukan meditasinya atau menyembah atau berdoa atau apa pun mereka masing-masing menyebutnya. ”

Setelah membaca sejarah tersebut, saya sebagai seorang muslim turut berdoa semoga larang itu segera dihapuskan dan seluruh kaum muslim dari berbagai belahan dunia yang berkunjung dapat  kembali shalat di Masjid Agung Cordoba, seperti yang kini masih diperjuangkan oleh kaum Muslim Spanyol.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar