27 Des 2013

sepuluh fakta tentang amarah



Fakta 01
Faktor penyebab mengapa seseorang menjadi marah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah hal-hal yang datang dari luar diri sang individu, contoh : kita marah kepada bawahan karena tugas yang diberikan tidak diselesaikan dengan benar. Kita juga bisa menjadi marah karena terjebak macet atau tertundanya jadwal penerbangan.
            Di samping hal-hal eksternal tersebut, kemarahan juga dapat disebabkan oleh adanya factor-faktor yang ada di dalam diri. Dengan kata lain ada unfinished business yang bisa memicu kita untuk marah, contoh : ketakutan atau kekhawatiran terhadap suatu hal tertentu, ketidakmampuan dalam berinteraksi, adanya pengalaman pahit di masa lalu.

Fakta 02
            Selain bardampak terhadap serangan jantung, pria yang peka dan selalu memandam rasa marahnya berisiko lebih besar mengalami depresi dan kecemasan, yang efek lanjutnya adalah mengundang peningkatan risiko stroke.
            Namun, apakah kemarahan bisa memicu problem kardiovaskuler masih belum jelas. Diduga rasa marah meningkatkan pelepasan katekolamin, bahan yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah, meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.

Fakta 03
Marah bisa berdampak negatif pada diri sendiri atau pada diri orang lain ketika yang bersangkutan tidak jujur mengakui rasa marahnya atau memendam amarah. Marah yang tidak dikeluarkan bisa menyebabkan sakit kepala, nyeri punggung, mual, bahkan depresi. Mereka yang suka meremehkan, mengkritik, dan berkomentar sinis terhadap prang lain biasanya adalah orang yang tidak terbiasa mengekspresikan kemarahannya.


Fakta 04
            Marah adalah sifat alamiah yang dimiliki setiap manusia. Kemarahan biasanya muncul karena adanya dorongan agresif yang lazim disebut dengan istilah human aggressive.  Dorongan rasa marah ini bisa saja muncul karena sesuatu terjadi diluar dugaan atau di luar perhitungan. Harapan yang tinggi sementara kenyataan tidak  demikian juga bisa menyebabkan kekecewaan dan dapat memicu rasa marah.

Fakta 05
Tahukah Anda apa yang terjadi dalam tubuh kita ketika sedang marah?
Marah merupakan emosi yang tersalur melalui sinyal pengantar saraf atau neurotransmitter, pada sel-sel syarap pusat otak. Sinyal itu diteruskan ke kelenjar endokrin suprarenalis penghasil hormone adrenalin. Akibatnya tekanan darah naik. Mukanya menjadi merah, jantung berdebar-debar kencang mengikuti peningkatan hormone adrenalin tadi.

Fakta 06
Percaya atau tidak, menarik nafas dan menahannya bisa membuat kita menjadi lebih tenang ketika kita merasa emosi memuncak alias marah. Ketika sedang marah, tubuh akan mengeluarkan adrenalin yang memicu jantung berdetak lebih cepat, tekanan darah lebih tinggi sehingga membuat Anda siap untuk konfrontasi dengan siapa saja.
            Dengan menarik napas dalam-dalam dan menahannya sebentar, lalu melepaskannya lagi, akan membuat detak jantung Anda melambat dan mengirim sinyal ke otak bahwa Anda bisa mengatasi kemarahan tanpa harus berkonfrontasi.


Fakta 07
Kalau kita sedang berkonfrontasi dengan lawan bicara kita, sulit sekali bagi kita untuk berpikir secara logika. Jika kita dihadapkan pada kondisi demikian, ada sebuah saran yang mungkin berguna. Ketika kita merasa emosi sedang memuncak, cobalah untuk menyingkir sebentar sampai kita bisa memperoleh kembali control diri. Katakan pada lawan bicara bahwa kita perlu menyendiri beberapa saat.
            Basuh wajah dengan air dingin, lalu cobalah bernapas pelan-pelan. Jika dirasa sudah cukup tenang dan bisa berpikir logis, barulah kita kembali menemui lawan bicara untuk menyelesaikan masalah.

Fakta 08
            Kadang ketika kita sangat marah, kita cenderung untuk melampiaskannya dengan cara berteriak. Namun, hal itu sangat disarankan untuk tidak dilakukan, karena sebuah teriakan tidak cukup sopan untuk didengar orang lain.
            Sebagai alternatif, cobalah gunakan buku harian. Tulislah segala kekesalan kita, sampai sedetail dan setuntas-tuntasnya. Jika setelahnya kita memilih untuk merobeknya. Tidak apa-apa, karena buku hanyalah media untuk melampiaskan kemarahan. Niscaya, dengan cara ini tidak ada yang akan sakit hati atau dirugikan.

Fakta 09
Salah satu kondisi yang menyebabkan kita gampang marah atau mudah “naik pitam” adalah saat kita dalam kondisi capek atau letih. Untuk itu, disarankan untuk menghindari berdiskusi atau mengobrol dan mengerjakan sesuatu jika Anda merasa letih. Jika dipaksakan, bukan hanya kita yang tidak nyaman, orang yang bekerja sama dengan kitapun akan merasa kecewa dan hasil pekerjaan tidak akan maksimal.
            Marah sering dianggap emosi negative sebab marah dapat membangkitkan toksin yang meracuni emosi dan bisa memunculkan tindakan yang berdampak negative, seperti melukai orang lain. Tetapi marah tidak selalu buruk. Bila seseorang diperlakukan tidak baik, dan dia menunjukan reaksi marah, itu dianggap hal yang wajar.
            Marah bisa dinilai positif ketika perasaan itu muncul saat melihat sseorang diperlakukan tidak adil, sehingga menimbulkan rasa ingin menolong. Artinya rasa marah itu bisa mendorong seseorang melakukan hal yang positif atau yang dianggap baik.


Fakta 10
Perlu untuk itu kita sadari juga bahwa biasanya dorongan untuk marah kadang muncul sebagai bentuk survival ( mempertahankan hidup). Orang tentu tidak akan diam saja manakala dirinya terancam atau diserang dan diperlakukan tidak adil oleh pihak lain. Untuk itu secara reflex akan timbul sikap mempertahankan diri atau yang kita sebut defense mechanism.
Meskipun sebaiknya rasa marah itu dilepaskan saja dan jangan disimpan, hal itu sering dinilai tidak selalu baik untuk diterapkan. Apakah kalau marah dilepaskan lantas kita menjadi puas?  Atau akan menyebabkan orang yang dimarahi menjadi sakit dan akhirnya menimbulkan persoalan baru?  Lalu bagaimana sebaiknya?
Yang baik adalah kita redam dan netralisasi dengan diri sendiri sambil menyelesaikan pokok permasalahan yang dihadapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar