Fakta
01
Faktor penyebab mengapa seseorang
menjadi marah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu eksternal dan internal. Faktor
eksternal adalah hal-hal yang datang dari luar diri sang individu, contoh :
kita marah kepada bawahan karena tugas yang diberikan tidak diselesaikan dengan
benar. Kita juga bisa menjadi marah karena terjebak macet atau tertundanya
jadwal penerbangan.
Di samping
hal-hal eksternal tersebut, kemarahan juga dapat disebabkan oleh adanya
factor-faktor yang ada di dalam diri. Dengan kata lain ada unfinished business yang bisa memicu kita untuk marah, contoh :
ketakutan atau kekhawatiran terhadap suatu hal tertentu, ketidakmampuan dalam
berinteraksi, adanya pengalaman pahit di masa lalu.
Fakta
02
Selain bardampak terhadap
serangan jantung, pria yang peka dan selalu memandam rasa marahnya berisiko
lebih besar mengalami depresi dan kecemasan, yang efek lanjutnya adalah
mengundang peningkatan risiko stroke.
Namun, apakah
kemarahan bisa memicu problem kardiovaskuler masih belum jelas. Diduga rasa
marah meningkatkan pelepasan katekolamin, bahan yang mengakibatkan penyempitan
pembuluh darah, meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.
Fakta
03
Marah bisa berdampak negatif pada
diri sendiri atau pada diri orang lain ketika yang bersangkutan tidak jujur
mengakui rasa marahnya atau memendam amarah. Marah yang tidak dikeluarkan bisa
menyebabkan sakit kepala, nyeri punggung, mual, bahkan depresi. Mereka yang
suka meremehkan, mengkritik, dan berkomentar sinis terhadap prang lain biasanya
adalah orang yang tidak terbiasa mengekspresikan kemarahannya.
Fakta
04
Marah
adalah sifat alamiah yang dimiliki setiap manusia. Kemarahan biasanya muncul
karena adanya dorongan agresif yang lazim disebut dengan istilah human aggressive. Dorongan rasa marah ini bisa saja muncul
karena sesuatu terjadi diluar dugaan atau di luar perhitungan. Harapan yang
tinggi sementara kenyataan tidak
demikian juga bisa menyebabkan kekecewaan dan dapat memicu rasa marah.
Fakta
05
Tahukah Anda apa yang terjadi dalam
tubuh kita ketika sedang marah?
Marah merupakan emosi yang tersalur melalui sinyal
pengantar saraf atau neurotransmitter,
pada sel-sel syarap pusat otak. Sinyal itu diteruskan ke kelenjar endokrin
suprarenalis penghasil hormone adrenalin. Akibatnya tekanan darah naik. Mukanya
menjadi merah, jantung berdebar-debar kencang mengikuti peningkatan hormone
adrenalin tadi.
Fakta
06
Percaya atau tidak, menarik nafas
dan menahannya bisa membuat kita menjadi lebih tenang ketika kita merasa emosi
memuncak alias marah. Ketika sedang marah, tubuh akan mengeluarkan adrenalin
yang memicu jantung berdetak lebih cepat, tekanan darah lebih tinggi sehingga
membuat Anda siap untuk konfrontasi dengan siapa saja.
Dengan
menarik napas dalam-dalam dan menahannya sebentar, lalu melepaskannya lagi,
akan membuat detak jantung Anda melambat dan mengirim sinyal ke otak bahwa Anda
bisa mengatasi kemarahan tanpa harus berkonfrontasi.
Fakta
07
Kalau kita sedang berkonfrontasi
dengan lawan bicara kita, sulit sekali bagi kita untuk berpikir secara logika.
Jika kita dihadapkan pada kondisi demikian, ada sebuah saran yang mungkin
berguna. Ketika kita merasa emosi sedang memuncak, cobalah untuk menyingkir
sebentar sampai kita bisa memperoleh kembali control diri. Katakan pada lawan
bicara bahwa kita perlu menyendiri beberapa saat.
Basuh
wajah dengan air dingin, lalu cobalah bernapas pelan-pelan. Jika dirasa sudah
cukup tenang dan bisa berpikir logis, barulah kita kembali menemui lawan bicara
untuk menyelesaikan masalah.
Fakta
08
Kadang
ketika kita sangat marah, kita cenderung untuk melampiaskannya dengan cara
berteriak. Namun, hal itu sangat disarankan untuk tidak dilakukan, karena
sebuah teriakan tidak cukup sopan untuk didengar orang lain.
Sebagai
alternatif, cobalah gunakan buku harian. Tulislah segala kekesalan kita, sampai
sedetail dan setuntas-tuntasnya. Jika setelahnya kita memilih untuk merobeknya.
Tidak apa-apa, karena buku hanyalah media untuk melampiaskan kemarahan.
Niscaya, dengan cara ini tidak ada yang akan sakit hati atau dirugikan.
Fakta
09
Salah satu kondisi yang menyebabkan kita gampang marah atau
mudah “naik pitam” adalah saat kita dalam kondisi capek atau letih. Untuk itu,
disarankan untuk menghindari berdiskusi atau mengobrol dan mengerjakan sesuatu
jika Anda merasa letih. Jika dipaksakan, bukan hanya kita yang tidak nyaman,
orang yang bekerja sama dengan kitapun akan merasa kecewa dan hasil pekerjaan
tidak akan maksimal.
Marah
sering dianggap emosi negative sebab marah dapat membangkitkan toksin yang
meracuni emosi dan bisa memunculkan tindakan yang berdampak negative, seperti
melukai orang lain. Tetapi marah tidak selalu buruk. Bila seseorang
diperlakukan tidak baik, dan dia menunjukan reaksi marah, itu dianggap hal yang
wajar.
Marah bisa
dinilai positif ketika perasaan itu muncul saat melihat sseorang diperlakukan
tidak adil, sehingga menimbulkan rasa ingin menolong. Artinya rasa marah itu
bisa mendorong seseorang melakukan hal yang positif atau yang dianggap baik.
Fakta
10
Perlu untuk itu kita sadari juga
bahwa biasanya dorongan untuk marah kadang muncul sebagai bentuk survival ( mempertahankan hidup). Orang
tentu tidak akan diam saja manakala dirinya terancam atau diserang dan
diperlakukan tidak adil oleh pihak lain. Untuk itu secara reflex akan timbul
sikap mempertahankan diri atau yang kita sebut defense mechanism.
Meskipun sebaiknya rasa marah itu
dilepaskan saja dan jangan disimpan, hal itu sering dinilai tidak selalu baik
untuk diterapkan. Apakah kalau marah dilepaskan lantas kita menjadi puas? Atau akan menyebabkan orang yang dimarahi
menjadi sakit dan akhirnya menimbulkan persoalan baru? Lalu bagaimana sebaiknya?
Yang baik adalah kita redam dan
netralisasi dengan diri sendiri sambil menyelesaikan pokok permasalahan yang
dihadapi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar