28 Des 2013

menjalin hubungan dengan rekan kerja



Menjalin hubungan dengan rekan kerja merupakan topic yang pantas untuk dikemukakan. Hubungan dengan rekan sekerja dalam suatu organisasi apapun bentuknya merupakan aspek  yang akan mempengaruhi keharmonisan, solidaritas, berfungsinya organisasi tersebut bahkan dalam rangka membangun suatu teamwork yang produktif guna pencapaian tujuan organisasi. Perlu disadari sepenuhnya bahwa keberadaan dirinya adalah bagian dari suatu teamwork, bagian dari satu kelompok yang terorganisir. Untuk itu suatu organisasi yang menempatkan personel sesuai dengan struktur organisasinya (serta kompetensi), dengan harapan bahwa mereka yang ditempatkan dapat saling berhubungan (membina hubungan kearah yang lebih baik). 

Ada beberapa pedoman yang kiranya dapat dijadikan pegangan untuk menjawab agar hubungan atau relasi dengan rekan sekerja dapat terjalin dengan baik.
pertama adalah menjadi anggota kelompok (organisasi) yang baik. Untuk menjadi anggota kelompok yang baik adalah dengan mengedepankan kejujuran dalam setiap perilaku manakala menjalin hubungan dengan atasan, bawahan maupun teman yang sederajat. Rekan sekerja akan menerima kita apabila kejujuran diperhatikan secara nyata.

Mengakui keberadaan rekan sekerja, mengakui keterampilan dan kemampuannya sekaligus memahami kelemahannya secara jujur akan membuat rekan kerja kita menghargai dan menghormati diri kita sendiri. Tergantung situasi dan kondisi bila kita akan mengungkapkan pengakuan akan hal tersebut, mungkin tidak perlu diucapkan bila menimbulkan kesan berlebihan. Tetapi pada saat-saat tertentu melontarkan pujian manakala rekan sekerja kita dapat memecahkan persoalan yang rumit dan kompleks sehingga yang bersangkutan merasa senang dan merasa kita memberikan penilaian yang jujur. 

Sebaliknya akui kesalahan secara jujur dan terbuka manakala kita gagal atau tidak berhasil dalam melaksanakan suatu pekerjaan .akan lebih baik sesegera mungkin mengakui kesalahan dan kekeliruan terutama bila terkait dengan teman sekerja, karena hal itu tidak akan meruntuhkan keberadaan diri kita, bahkan mungkin akan menghargai sekaligus menghormati diri kita. Dengan bersikap jujur , pekerjaan relative akan lancer sehingga memungkinkan terciptanya kerja sama yang makin padu.

Kedua, mengelola persaingan dengan rekan sekerja secara bijaksana. Hubungan dengan rekan sekerja biasanya tidak luput dari persaingan yang umumnya berkaitan erat dengan ketidakpuasan baik yang menyangkut jenjang karir, kesejahteraan dan lain sebagainya. Apabila hal ini tidak disikapi dengan bijaksana, penuh pengertian dan dihadapi dengan berfikir yang jernih (logis dan realistis) dapat menimbulkan perilaku yang kurang baik diantara rekan sekerja.

Tidak jarang muncul berita yang diragukan kebenarannya, mencela orang lain dan lain sebagainya. Kadangkala kita menghadapi rekan sekerja yang senang menebar gosip terutama pada saat kita sedang serius menghadapi suatu perkerjaan. Bahasa tubuh merupakan salah satu jawaban untuk menyatakan bahwa kita tidak senang dan tidak mau diganggu, misalnya dengan tidak banyak memberikan tanggapan, mata tertuju pada tumpukan map atau komputer, mengajak keluar ruangan dan lain sebagainya.

Ketiga, selalu berpijak kepada tatakrama serta budaya yang berlaku. Apakah perilaku kita sesuai atau tidak, baik atau tidak sering kali dilihat sejauh mana sejalan dengan tatakrama serta budaya yang berlaku dalam lingkungan atau organisasi dimana kita bekerja. Kalau diperhatikan lebih seksama tatakrama dan budaya tiap organisasi secara spesifik ada perbedaan sesuai dengan kebiasaan cara berprilaku anggota kelompok maupun tuntunan dari organisasi dimana kita berada. 

Kecepatan dan kesesuian perilaku kita sesuai dengan aturan (nilai dan norma) serta kebiasaan yang berlaku akan memudahkan siapapun juga untuk menjalin hubungan yang lebih inten dan bermakna. Ketidaksesuaian akan hal tersebut dapat mempengaruhi kedalaman dan kelancaran kerja sama sehingga akan mempengaruhi jalannnya roda organisasi.

Kekompakan atau kerja sama merupakan kata kunci dalam hubungan dengan rekan kerja. Mengapa masalah kekompakan perlu untuk diperhatikan dalam proses bekerja. Cukup beralasan mengingat hampir keseluruhan dalam alur kerja tidak hanya dapat dilaksanakan atau diselesaikan oleh satu orang saja. Maka dari itu pula agar menjadi kompak harus membina hubungan yang baik dengan rekan sekerja kita. Terlebih lagi rekan sekerja pula lah yang bersama dengan kita hampir sepanjang waktu dan setiap hari kerja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar