Maskapai
penerbangan yang khusus mengoperasikan pesawat-pesawat freighter dibelahan dunia sana banyak yang bangkrut. Namun maskapai
penerbangan penumpang yang besar, umumnya memiliki freighter untuk memaksimalkan bisnisnya.
Sebut
saja emirates. Saat ini maskapai uni emirate arab ini memiliki armada 10
pesawat freighter, tiga diantaranya
adalah B777 freighter berkapasitas
103 ton. Jaringan penerbangan kargonya mencakup 12 destinasi utama didunia.
Menurut ram menen, divi-sional senior vice president cargo emirates, dalam
siaran persnya awal tahun ini, armada kargo ditambah dengan armada penumpang
185 pesawat yang terbang ke 128 destinasi membuat pihaknya mampu menjangkau
berbagai kawasan dunia untuk menunjang kelancaran konektivitas perdagangan
dunia. Sekarang ini, pesawat-pesawat freighter
besar yang terbang ke bandara Soekarno-Hatta dan bandara Ngurah Rai adalah
milik maskapai penerbangan asing, seperti Korean Air dan China airlines.
Kapasitasnya bisa mencapai lebih dari 100 ton sekali angkut.
Maskapai
kita masih belum memiliki pesawat freighter,
apalagi yang sekelas B777F itu. Pada era 1990-an, garuda Indonesia pernah
memiliki pesawat DC-10 combi (setengah untuk penumpang dan setengah untuk
kargo), tapi operasinya tak menguntungkan. Garuda memang sudah memiliki rencana
untuk memiliki pesawat kargo pada tahun 2014, yakni pesawat A330-200F. melihat
potensinya, rencana itu dipercepat. Manajemen garuda ingin meningkatkan
pendapatan dari angkutan kargo, yang saat ini baru menyumbang sekitar 3%
terutama untuk rute internasional. Sementara untuk angkutan kargo domestic,
garuda sudah menguasai pasar.
Lion air juga berencana untuk
memiliki pesawat kargo. “masih dikaji. Mungkin pesawat B737-200 kami bisa
dijadikan freighter, tapi nanti kita
lihat saja,”ujar Edward sirait, direktur umum lion air. Selama ini lion air
mengangkut kargo diperut pesawat penumpang. Namun untuk operasi penuh pesawat
kargo masih banyak pertimbangan. alasannya, angkutan kargo masih belum merata.
“berangkat dari Jakarta atau Surabaya bisa penuh, tapi baliknya dari makasar
atau kota lain ditimur misalnya sedikit, malah kosong,”ujarnya.
Berbeda
dengan sriwijaya air yang tidak berencana untuk mengoperasikan pesawat kargo.
“alasannya, kami ingin focus ke angkatan penumpang saja,”ujar agus soejono, senior
corporate communication manager sriwijaya air. Maskapai khusus kargo, yakni
Cardig Air, Tri MG, RPX, dan Asialink, mengoperasikan pesawat kargo model lama,
seperti B737-200, B737-300F, dan F-27. Sebelumnya, mereka menerbangkan
pesawat-pesawat lebih lama lagi, seperti B727-100F dan B727-200F, Antonov 12,
An-26, An-32. Maskapai carter juga tak ketinggalan mengoperasikan pesawat
kargo, seperti Trigana Air, Suci Air, Jayawijaya, dan NAC, yang selain
menggunakan pesawat yang disebutkan tadi juga ATP-F. mereka mengangkut kargo
untuk sebaran dipapua dan kawasan timur lainnya, sementara yang ke barat
(batam) dilayani Asialink.
Dioperasikan carter
pesawat
kargo diindonesia rupanya masih lebih efektif jika dioperasikan tidak berjadwal
atau carter. Salah satu alesannya, dengan operasi carter, maskapai dapat
memenuhi kapasitasnya dan mengelola operasi pesawat dengan efisien. Karena itu,
maskapai penerbangan yang akan mengoperasikannya selayaknya memiliki dua izin
penerbangan, yakni yang regular dan carter, seperti Garuda Indonesia, Merpati
nusantara, Trigana Air, Susi Air, Sky Aviation. Maskapai-maskapai tersebut
memang memiliki target bisnis untuk mengembangkan jasa angkutannya, bukan cuma
untuk penumpang, tapi juga kargo. Jaringan mereka cukup bagus, seperti garuda yang
memiliki peluang untuk mengangkut kargo ke jepang dan kawasan china. Sementara
Susi Air, Trigana, dan Jayawijaya, yang berpotensi pasarnya sangat besar
dikawasan timur Indonesia.
Dengan potensi pasar yang besar,
pesawat kargo sangat diperlukan. Apalagi jika infrastruktur bandara-bandara
besar di Indonesia sudah selesai dikembangkan dan memiliki terminal kargo yang
bagus. Seperti di soekarno-hatta, yang akan membangun cargo village, maskapai
nasional sudah seharusnya sebagai pemain untuk angkutan kargonya, terutama
kargo internasional. Peran freight forwarding sangat besar untuk meningkatkan
pasar kargo udara yang nantinya dapat diangkut dengan freighter itu. Selama
ini, DHL misalnya, mencarter pesawat kargo sekela B737-200 untuk angkutan
barangnya, yang diterbangkan hampir setiap hari. Garuda pun yang rencananya akan mendatangkan freighter, sudah
menjalani banyak kerja sama dan memperluas jaringan untuk mengisi pesawat
tersebut.
Penanganan
pesawat kargo, walupun relative tak sebesar resiko menangani pesawat penumpang,
tapi memiliki pesawat standar operasi tersendiri dan tetap mengutamakan
keselamatan. Peran regulated agent juga semakin besar. Kata Rajendra,
sekarang ini bukan hanya barang-barang yang akan membahayakan penerbangan,
seperti bom dan benda-benda eksplosif, yang harus diawasi dengan ketat. Namun
ada yang patut diwaspadai, yaitu barang-barang yang tidak membahayakan
penerbangan, tapi membahayakan masyarakat, seperti ganja dan narkotika.
“pernah
ditemukan narkoba yang diselipkan pada barang pos. nah, yang seperti ini harus
lebih diperketat lagi pemeriksaannya,”ujarnya. Untuk menangani pesawat freighter dengan lebih efisien juga
memerlukan sumber daya manusia yang memiliki kapabilitas dan kemampuan sesuai
standarny, di samping teknologi untuk mengangkut dan menurunkan barang dari
pesawat. Semua factor penunjang dan seluruh pelaku yang terkait dengan bisnis
kargo udara harus siap. (majalah angkasa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar