24 Des 2013

Apa kabar pesawat kargo



Maskapai penerbangan yang khusus mengoperasikan pesawat-pesawat freighter dibelahan dunia sana banyak yang bangkrut. Namun maskapai penerbangan penumpang yang besar, umumnya memiliki freighter untuk memaksimalkan bisnisnya.

Sebut saja emirates. Saat ini maskapai uni emirate arab ini memiliki armada 10 pesawat freighter, tiga diantaranya adalah B777 freighter berkapasitas 103 ton. Jaringan penerbangan kargonya mencakup 12 destinasi utama didunia. Menurut ram menen, divi-sional senior vice president cargo emirates, dalam siaran persnya awal tahun ini, armada kargo ditambah dengan armada penumpang 185 pesawat yang terbang ke 128 destinasi membuat pihaknya mampu menjangkau berbagai kawasan dunia untuk menunjang kelancaran konektivitas perdagangan dunia. Sekarang ini, pesawat-pesawat freighter besar yang terbang ke bandara Soekarno-Hatta dan bandara Ngurah Rai adalah milik maskapai penerbangan asing, seperti Korean Air dan China airlines. Kapasitasnya bisa mencapai lebih dari 100 ton sekali angkut.

Maskapai kita masih belum memiliki pesawat freighter, apalagi yang sekelas B777F itu. Pada era 1990-an, garuda Indonesia pernah memiliki pesawat DC-10 combi (setengah untuk penumpang dan setengah untuk kargo), tapi operasinya tak menguntungkan. Garuda memang sudah memiliki rencana untuk memiliki pesawat kargo pada tahun 2014, yakni pesawat A330-200F. melihat potensinya, rencana itu dipercepat. Manajemen garuda ingin meningkatkan pendapatan dari angkutan kargo, yang saat ini baru menyumbang sekitar 3% terutama untuk rute internasional. Sementara untuk angkutan kargo domestic, garuda sudah menguasai pasar.

            Lion air juga berencana untuk memiliki pesawat kargo. “masih dikaji. Mungkin pesawat B737-200 kami bisa dijadikan freighter, tapi nanti kita lihat saja,”ujar Edward sirait, direktur umum lion air. Selama ini lion air mengangkut kargo diperut pesawat penumpang. Namun untuk operasi penuh pesawat kargo masih banyak pertimbangan. alasannya, angkutan kargo masih belum merata. “berangkat dari Jakarta atau Surabaya bisa penuh, tapi baliknya dari makasar atau kota lain ditimur misalnya sedikit, malah kosong,”ujarnya.

Berbeda dengan sriwijaya air yang tidak berencana untuk mengoperasikan pesawat kargo. “alasannya, kami ingin focus ke angkatan penumpang saja,”ujar agus soejono, senior corporate communication manager sriwijaya air. Maskapai khusus kargo, yakni Cardig Air, Tri MG, RPX, dan Asialink, mengoperasikan pesawat kargo model lama, seperti B737-200, B737-300F, dan F-27. Sebelumnya, mereka menerbangkan pesawat-pesawat lebih lama lagi, seperti B727-100F dan B727-200F, Antonov 12, An-26, An-32. Maskapai carter juga tak ketinggalan mengoperasikan pesawat kargo, seperti Trigana Air, Suci Air, Jayawijaya, dan NAC, yang selain menggunakan pesawat yang disebutkan tadi juga ATP-F. mereka mengangkut kargo untuk sebaran dipapua dan kawasan timur lainnya, sementara yang ke barat (batam) dilayani Asialink.

Dioperasikan carter
pesawat kargo diindonesia rupanya masih lebih efektif jika dioperasikan tidak berjadwal atau carter. Salah satu alesannya, dengan operasi carter, maskapai dapat memenuhi kapasitasnya dan mengelola operasi pesawat dengan efisien. Karena itu, maskapai penerbangan yang akan mengoperasikannya selayaknya memiliki dua izin penerbangan, yakni yang regular dan carter, seperti Garuda Indonesia, Merpati nusantara, Trigana Air, Susi Air, Sky Aviation. Maskapai-maskapai tersebut memang memiliki target bisnis untuk mengembangkan jasa angkutannya, bukan cuma untuk penumpang, tapi juga kargo. Jaringan mereka cukup bagus, seperti garuda yang memiliki peluang untuk mengangkut kargo ke jepang dan kawasan china. Sementara Susi Air, Trigana, dan Jayawijaya, yang berpotensi pasarnya sangat besar dikawasan timur Indonesia.

            Dengan potensi pasar yang besar, pesawat kargo sangat diperlukan. Apalagi jika infrastruktur bandara-bandara besar di Indonesia sudah selesai dikembangkan dan memiliki terminal kargo yang bagus. Seperti di soekarno-hatta, yang akan membangun cargo village, maskapai nasional sudah seharusnya sebagai pemain untuk angkutan kargonya, terutama kargo internasional. Peran freight forwarding sangat besar untuk meningkatkan pasar kargo udara yang nantinya dapat diangkut dengan freighter itu. Selama ini, DHL misalnya, mencarter pesawat kargo sekela B737-200 untuk angkutan barangnya, yang diterbangkan hampir setiap hari. Garuda pun yang  rencananya akan mendatangkan freighter, sudah menjalani banyak kerja sama dan memperluas jaringan untuk mengisi pesawat tersebut.

Penanganan pesawat kargo, walupun relative tak sebesar resiko menangani pesawat penumpang, tapi memiliki pesawat standar operasi tersendiri dan tetap mengutamakan keselamatan. Peran regulated agent juga semakin besar. Kata Rajendra, sekarang ini bukan hanya barang-barang yang akan membahayakan penerbangan, seperti bom dan benda-benda eksplosif, yang harus diawasi dengan ketat. Namun ada yang patut diwaspadai, yaitu barang-barang yang tidak membahayakan penerbangan, tapi membahayakan masyarakat, seperti ganja dan narkotika.


“pernah ditemukan narkoba yang diselipkan pada barang pos. nah, yang seperti ini harus lebih diperketat lagi pemeriksaannya,”ujarnya. Untuk menangani pesawat freighter dengan lebih efisien juga memerlukan sumber daya manusia yang memiliki kapabilitas dan kemampuan sesuai standarny, di samping teknologi untuk mengangkut dan menurunkan barang dari pesawat. Semua factor penunjang dan seluruh pelaku yang terkait dengan bisnis kargo udara harus siap. (majalah angkasa)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar