Soedirman dilahirkan pada tanggal 24 januari 1916
didesa badaskarangjati, kecamatan rembang, kabupaten purbalingga, jawa tengah.
Ayahnya bernama karsid kartawiradji, seorang mandor tebu pada pabrik gula
dipurwokerto. ibunya bernama siyem,
berasal dari rawaro, purwokerto. Mereka adalah keluarga petani.
Soedirman
memasuki dunia militer
Pada pertengahan tahun 1943, tentara jepang mulai
terdesak oleh sekutu. Pada bulan oktober 1943, pemerintah pendudukan jepang
mengumumkan pembentukan tentara pembela tanah air (peta). Soedirman sebagai
tokoh masyarakat ditunjuk untuk mengikuti latihan peta angkatan kedua dibogor.
Selesai pendidikan ia diangkat menjadi
daidanco (komandan batalyon) berkedudukan di kroya, banyumas. Disanalah soedirman
memulai karir sebagai seorang prajurit.
Soedirman
memimpin pertempuran ambarawa
Pada tanggal 11 desember 1945, colonel soedirman
mengadakan rapat dengan para komando sector TKR dan laskar. Dalam rapat
tersebut soedirman menjelaskan bahwa posisi lawan sudah makin terjepit sehingga
merupakan peluang yang tepat untuk menghancurkan lawan secepatnya dari
ambarawa. Tepat pukul 04.30 pagi tanggal
12 desember 1945 serangan mulai dilancarkan. Pertempuran segera berkobar
diambarawa. Satu setengah jam kemudian,
jalan yang menghubungkan ambarawa dengan semarang sudah dikuasai oleh
kesatuan-kesatuan TKR.
Pertempuran ambarawa berlangsung sengit, colonel
soedirman langsung memimpin pasukannya yang menggunakan taktik “supit urang”
atau pengepungan rangkap sehingga musuh benar-benar terkurung. Suplai dan
komunikasi dengan pasukan induknya terputus sama sekali. Setelah bertempur
selama 4 hari 4 malam, akhirnya mundur kesemarang. Banteng pertahanan yang
tangguh jatuh ketangan pasukan kita. Tanggal 15 desember 1945, pertempuran
berakhir. Kemenangan gemilang di medan ambarawa telah membuktikan kemampuan
soedirman sebagai seorang panglima perang yang tangguh.
Soedirman
memimpin perang gerilya
Perkiraan TNI bahwa belanda sewaktu-waktu akan
menyerang RI, ternyata tidak meleset. Belanda kembali melancarkan agresi
militernya yang kedua. Pasukan belanda menyerang ibu kota RI dan bergerak
keseluruh wilayah republic pada tanggal 19 desember 1948. Pada jam-jam terakhir
sebelum jatuhnya Yogyakarta, dalam keadaan sakit soedirman menghadap presiden
dan melaporkan bahwa pasukan TNI sudah siap melakukan rencananya, termasuk
mengungsikan para pimpinan nasional.
Jawaban presiden mengejutkan soedirman. Soedirman
dinasehati agar tetap tinggal dikota, untuk dirawat sakitnya. Panglima besar
soedirman menjawab, “ tempat saya yang
terbaik adalah di tengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan. Met
of zonder pemerintah TNI akan berjuang terus”. Menghadapi agresi militer II
belanda, jenderal soedirman segera mengeluarkan perintah kilat No.I/PB/D/48.
Isinya, pada tanggal 19 desember 1948 angkatan perang belanda telah menyerang
kota Yogyakarta dan lapangan terbang maguwo, pemerintah belanda telah
membatalkan persetujuan genjatan senjata, semua angkatan perang menjalankan
rencana untuk menghadapi serangan belanda. Pada hari ini juga jenderal
soedirman meninggalkan yogya dan memimpin perang gerilya.
Soedirman
wafat
Tanggal 29 januari 1950 soedirman wafat, berita
tentang wafatnya soedirman, yang disiarkan berulang-ulang oleh radio. Menyusul
perintah harian pejabat kepala staf angkatan perang RIS, colonel T.B.
Simatupang yang ditujukan kepada seluruh tentara berisi seluruh angkatan perang
RIS diperintahkan berkabung selama tujuh hari dengan melaksanakan pengibaran
bendera merah putih setengah tiang pada masing-masing kesatuan dijalankan
dengan penuh khidmat serta hormat, menjauhkan segala tindakan dan tingkah laku
yang dapat mengganggu suasana berkabung.
Pemerintah mengumumkan hari berkabung nasioanl
sehubungan dengan wafatnya soedirman, dan dalam pidatonya perdana menteri RIS
bung hatta mengumumkan keputusan pemerintah RIS untuk menaikkan pangkat letnan
jenderal soedirman secara anumerta menjadi jenderal.
Hikmah
yang dapat dipetik dari kepemimpinan pangsar jenderal soedirman
Sebagai pejuang, pak dirman pertama-tama membentuk
sikap yaitu ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan dan Negara proklamasi,
serta dengan teguh mempertahankan sikap itu dalam semua situasi dengan segala
konsekuensi yang menyertainya. Sikap kejuangannya memang didukung oleh semangat
pengabdian yang tulus, kemauan berkorban, serta kesediaan dan keteguhan didalam
memikul tanggung jawab atas nasib bangsa dan Negara. Dalam kaitan ini tidak ada
pamrih pribadi. Tidak ada target karier. Tidak ada imaginasi tentang hak pribadi
untuk menikmati hasil perjuangan. Wawasan perjuangannya menjangkau kepentingan
yang jauh kedepan, melampaui batas usia yang dapat dijalani oleh dirinya
sendiri.
Ketika dalam keadaan sakit paru-paru yang berat,
serta terjepit oleh sergapan-sergapan militer belanda yang tiada henti-hentinya
berupaya menghancurkan semangat perjuangan dari kubu-kubu pertahanan prajurit
kita, sudirman justru memilih untuk tetap bersama rakyat dan prajurit. Situasi
sulit itu bahkan memberi inspirasi untuk mencetuskan doktrin perang rakyat
semesta, yaitu suatu system perlawanan yang melibatkan seluruh rakyat untuk
bersama-sama dengan prajurit membangun kekuatan untuk membela kehormatan dan
masa depan bangsa dan Negara.
Tekad dan kreatifitas sudirman yang demikian itu
menunjukkan bahwa gangguan kesehatan, kesulitan hidup, dan ancaman keselamatan
tidaklah merupakan penghalang bagi seorang prajurit-pejuang untuk mengemban
tugasnya dengan baik. Sikap sudirman yang demikian luhur itu, sesungguhnya
mewariskan nilai-nilai serta keteladanan yang tetap relevan dengan kebutuhan
kita dewasa ini dan juga untuk masa depan.
Kata mutiara soedirman
Jogyakarta,
25 mei 1945
“…… yang wajib mempertahankan
dan membela Negara republik Indonesia,……
yang wajib prihatin dalam saat
yang sangat genting runcing ini,…… yang wajib
menyelamatkan rakyat dan bangsa
Indonesia seluruhnya dari mara bahaya itu,
tidak lain yang mempunyai hak
milik sendiri,
ialah rakyat dan bangsa
Indonesia seluruhnya,
baik laki-laki maupun perempuan,
tua maupun muda, yang berada dipusat pemerintahan,
sampai yang berada diberbagai
jawatan-jawatan, badan-badan dan barisan-barisan
perjuangan seluruhnya, baik yang
resmi maupun yang tidak resmi,
selanjutnya robahlah segala
keadaan yang tidak atau yang belum sesuai dengan suasana
Negara dalam keadaan bahaya.
(amanat perintah pangsar APRI yang berjudul “kembali
ketempat kewajiban masing-masing)
Reff: buku soedirman & sudirman (pusat sejarah
TNI 2004)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar