8 Nov 2013

mengenang sosok jenderal soedirman



Soedirman dilahirkan pada tanggal 24 januari 1916 didesa badaskarangjati, kecamatan rembang, kabupaten purbalingga, jawa tengah. Ayahnya bernama karsid kartawiradji, seorang mandor tebu pada pabrik gula dipurwokerto.  ibunya bernama siyem, berasal dari rawaro, purwokerto. Mereka adalah keluarga petani.

Soedirman memasuki dunia militer
Pada pertengahan tahun 1943, tentara jepang mulai terdesak oleh sekutu. Pada bulan oktober 1943, pemerintah pendudukan jepang mengumumkan pembentukan tentara pembela tanah air (peta). Soedirman sebagai tokoh masyarakat ditunjuk untuk mengikuti latihan peta angkatan kedua dibogor. Selesai pendidikan ia diangkat menjadi  daidanco (komandan batalyon) berkedudukan di kroya, banyumas. Disanalah soedirman memulai karir sebagai seorang prajurit.

Soedirman memimpin pertempuran ambarawa
Pada tanggal 11 desember 1945, colonel soedirman mengadakan rapat dengan para komando sector TKR dan laskar. Dalam rapat tersebut soedirman menjelaskan bahwa posisi lawan sudah makin terjepit sehingga merupakan peluang yang tepat untuk menghancurkan lawan secepatnya dari ambarawa.  Tepat pukul 04.30 pagi tanggal 12 desember 1945 serangan mulai dilancarkan. Pertempuran segera berkobar diambarawa. Satu setengah  jam kemudian, jalan yang menghubungkan ambarawa dengan semarang sudah dikuasai oleh kesatuan-kesatuan TKR.

Pertempuran ambarawa berlangsung sengit, colonel soedirman langsung memimpin pasukannya yang menggunakan taktik “supit urang” atau pengepungan rangkap sehingga musuh benar-benar terkurung. Suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya terputus sama sekali. Setelah bertempur selama 4 hari 4 malam, akhirnya mundur kesemarang. Banteng pertahanan yang tangguh jatuh ketangan pasukan kita. Tanggal 15 desember 1945, pertempuran berakhir. Kemenangan gemilang di medan ambarawa telah membuktikan kemampuan soedirman sebagai seorang panglima perang yang tangguh.

Soedirman memimpin perang gerilya
Perkiraan TNI bahwa belanda sewaktu-waktu akan menyerang RI, ternyata tidak meleset. Belanda kembali melancarkan agresi militernya yang kedua. Pasukan belanda menyerang ibu kota RI dan bergerak keseluruh wilayah republic pada tanggal 19 desember 1948. Pada jam-jam terakhir sebelum jatuhnya Yogyakarta, dalam keadaan sakit soedirman menghadap presiden dan melaporkan bahwa pasukan TNI sudah siap melakukan rencananya, termasuk mengungsikan para pimpinan nasional.

Jawaban presiden mengejutkan soedirman. Soedirman dinasehati agar tetap tinggal dikota, untuk dirawat sakitnya. Panglima besar soedirman menjawab, “ tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan. Met of zonder pemerintah TNI akan berjuang terus”. Menghadapi agresi militer II belanda, jenderal soedirman segera mengeluarkan perintah kilat No.I/PB/D/48. Isinya, pada tanggal 19 desember 1948 angkatan perang belanda telah menyerang kota Yogyakarta dan lapangan terbang maguwo, pemerintah belanda telah membatalkan persetujuan genjatan senjata, semua angkatan perang menjalankan rencana untuk menghadapi serangan belanda. Pada hari ini juga jenderal soedirman meninggalkan yogya dan memimpin perang gerilya.

Soedirman wafat
Tanggal 29 januari 1950 soedirman wafat, berita tentang wafatnya soedirman, yang disiarkan berulang-ulang oleh radio. Menyusul perintah harian pejabat kepala staf angkatan perang RIS, colonel T.B. Simatupang yang ditujukan kepada seluruh tentara berisi seluruh angkatan perang RIS diperintahkan berkabung selama tujuh hari dengan melaksanakan pengibaran bendera merah putih setengah tiang pada masing-masing kesatuan dijalankan dengan penuh khidmat serta hormat, menjauhkan segala tindakan dan tingkah laku yang dapat mengganggu suasana berkabung.

Pemerintah mengumumkan hari berkabung nasioanl sehubungan dengan wafatnya soedirman, dan dalam pidatonya perdana menteri RIS bung hatta mengumumkan keputusan pemerintah RIS untuk menaikkan pangkat letnan jenderal soedirman secara anumerta menjadi jenderal.

Hikmah yang dapat dipetik dari kepemimpinan pangsar jenderal soedirman
Sebagai pejuang, pak dirman pertama-tama membentuk sikap yaitu ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan dan Negara proklamasi, serta dengan teguh mempertahankan sikap itu dalam semua situasi dengan segala konsekuensi yang menyertainya. Sikap kejuangannya memang didukung oleh semangat pengabdian yang tulus, kemauan berkorban, serta kesediaan dan keteguhan didalam memikul tanggung jawab atas nasib bangsa dan Negara. Dalam kaitan ini tidak ada pamrih pribadi. Tidak ada target karier. Tidak ada imaginasi tentang hak pribadi untuk menikmati hasil perjuangan. Wawasan perjuangannya menjangkau kepentingan yang jauh kedepan, melampaui batas usia yang dapat dijalani oleh dirinya sendiri.

Ketika dalam keadaan sakit paru-paru yang berat, serta terjepit oleh sergapan-sergapan militer belanda yang tiada henti-hentinya berupaya menghancurkan semangat perjuangan dari kubu-kubu pertahanan prajurit kita, sudirman justru memilih untuk tetap bersama rakyat dan prajurit. Situasi sulit itu bahkan memberi inspirasi untuk mencetuskan doktrin perang rakyat semesta, yaitu suatu system perlawanan yang melibatkan seluruh rakyat untuk bersama-sama dengan prajurit membangun kekuatan untuk membela kehormatan dan masa depan bangsa dan Negara.

Tekad dan kreatifitas sudirman yang demikian itu menunjukkan bahwa gangguan kesehatan, kesulitan hidup, dan ancaman keselamatan tidaklah merupakan penghalang bagi seorang prajurit-pejuang untuk mengemban tugasnya dengan baik. Sikap sudirman yang demikian luhur itu, sesungguhnya mewariskan nilai-nilai serta keteladanan yang tetap relevan dengan kebutuhan kita dewasa ini dan juga untuk masa depan.

Kata mutiara soedirman
Jogyakarta, 25 mei 1945

“…… yang wajib mempertahankan dan membela Negara republik Indonesia,……
yang wajib prihatin dalam saat yang sangat genting runcing ini,…… yang wajib
menyelamatkan rakyat dan bangsa Indonesia seluruhnya dari mara bahaya itu,
tidak lain yang mempunyai hak milik sendiri,
ialah rakyat dan bangsa Indonesia seluruhnya,
baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, yang berada dipusat pemerintahan,
sampai yang berada diberbagai jawatan-jawatan, badan-badan dan barisan-barisan
perjuangan seluruhnya, baik yang resmi maupun yang tidak resmi,
selanjutnya robahlah segala keadaan yang tidak atau yang belum sesuai dengan suasana
Negara dalam keadaan bahaya.

(amanat perintah pangsar APRI yang berjudul “kembali ketempat kewajiban masing-masing)


Reff: buku soedirman & sudirman (pusat sejarah TNI 2004)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar