~ keterkaitan wanita dengan angka kematian ~
kanker
serviks merupakan penyebab utama kematian perempuan di negara berkembang.
Menurut data Globocan 2002, terdapat 40.000 kasus baru kanker serviks
dengan sekitar 22.000 kematian pada perempuan di Asia Tenggara. Indonesia di
peringkat pertama dengan 15.050 kasus baru dan kematian 7.566 jiwa dalam
setahun. Angka itu tak jauh berubah, bahkan meningkat dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.
Apa itu kanker serviks?
Kanker serviks adalah
penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu daerah pada organ
reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim. Letaknya antara
rahim (uterus) dengan liang senggama wanita (vagina).
Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human
papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Berawal
terjadi pada leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa
menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh penderita.
Seberapa bahaya penyakit kanker
serviks ini?
Badan Kesehatan Dunia
(WHO) mengatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati
peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian
pada perempuan di dunia. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari
15.000 kasus kanker serviks.
Sekitar 8000 kasus di antaranya berakhir dengan
kematian. Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita
kanker serviks yang tertinggi di dunia. Mengapa bisa
begitu berbahaya? Pasalnya, kanker serviks muncul seperti musuh dalam seimut.
Sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut.
Apa sebenarnya penyebab kanker
serviks ini?
Pertama, kanker
serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini
memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak
berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan
kanker serviks dan paling fatal.Akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan 18.
Kedua, selain disebabkan oleh virus
HPV, sel-sel abnormal pada leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi
atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup
lama.
Mari kenali apa saja gejala kanker
serviks ini?
Pada tahap awal, penyakit ini tidak
menimbulkan gejala yang mudah diamati. Itu sebabnya, Anda yang sudah aktif
secara seksual amat dianjurkan untuk melakukan tes pap smear setiap dua tahun
sekali. Gejala fisik serangan penyakit ini pada umumnya hanya dirasakan oleh
penderita kanker stadium lanjut.
Gejala kanker serviks tingkat lanjut :
- munculnya rasa sakit dan perdarahan saat berhubungan intim (contact bleeding).
- keputihan yang berlebihan dan tidak normal.
- perdarahan di luar siklus menstruasi.
- penurunan berat badan drastis.
- Apabila kanker sudah menyebar ke panggul, maka pasien akan menderita keluhan nyeri punggung
- juga hambatan dalam berkemih, serta pembesaran ginjal.
Bagaimana cara mendeteksinya?
Pap smear adalah metode pemeriksaan
standar untuk mendeteksi kanker Serviks atau kanker leher rahim. Namun, pap
smear bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi penyakit
ini. Ada pula jenis pemeriksaan dengan menggunakan asam asetat (cuka).
Menggunakan asam asetat cuka adalah yang relatif
lebih mudah dan lebih murah dilakukan. Jika menginginkan hasil yang lebih
akurat, kini ada teknik pemeriksaan terbaru untuk deteksi dini kanker leher
rahim, yang dinamakan teknologi Hybrid Capture II System (HCII).
Bagaimana mencegah kanker serviks?
Meski menempati peringkat tertinggi di antara
berbagai jenis penyakit kanker yang menyebabkan kematian, kanker
serviks merupakan satu-satunya jenis kanker yang telah diketahui
penyebabnya. Karena itu, upaya pencegahannya pun sangat mungkin dilakukan.
Yaitu dengan cara :
- tidak berhubungan intim dengan pasangan yang berganti-ganti
- rajin melakukan pap smear setiap dua tahun sekali bagi yang sudah aktif secara seksual
- dan melakukan vaksinasi HPV bagi yang belum pernah melakukan kontak secara seksual
- dan tentunya memelihara kesehatan tubuh
kisah seorang penderita kanker serviks
SEMULA Nurlina menganggap penyakit keputihan yang dialaminya
hanya penyakit biasa dan tak mau memeriksa diri ke dokter atau berobat
ke rumah sakit. Namun, lama kelamaan penyakit yang diderita semakin
parah yang keluar tidak lagi warna putih tapi kuning dan terakhir
berwarna hijau dan berbau. Usai melakukan hubungan intim dengan suami,
terjadi pendarahan. "Darah yang keluar sampai segenggam tangan dan itu
terjadi 2002 lalu," katanya.
Dia pun memeriksakan diri ke dokter ahli kandunganya dan dinyatakan kena kanker leher rahim atau kanker serviks stadium 2. Nurlina rajin berobat ke dokter. Biaya membeli obat per minggu jutaan rupiah, hanya saja tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Malah, dokter menyarankan agar rahimnya diangkat satu, karena sudah menyebar.
"Saya menolak saran dokter tersebut. Itu bukan berarti saya putus asa, saya berusaha mencari pengobatan alternatif. Ada seorang teman menyarankan berobat ke Ustadz H Kusmawan Amin di Jalan Sultan Adam," katanya.
Pada 2006, jelas ibu beranak satu ini, dia pun secara rutin mendatangi ustadz tersebut dan disuruh mengaji Alquran secara rutin tiap hari. "Saat mengaji, saya membacanya menghadap kiblat dan tidak boleh bergerak walaupun digigit nyamuk. Saya juga diminta salat tahajud tiap malam. Setiap tahajud, saya berserah diri dan meminta yang terbaik maupun disembuhkan penyakitnya," paparnya.
Alhamdulillah, papar Nurlina, dengan mengaji Alquran secara rutin dan tak mengangkat satu rahimnya, saat diperiksa pada 2008, penyakit kanker leher rahim sudah sembuh. Di Alquran ternyata ada bermacam-macam cara pola penyembuhan penyakit dan disesuaikan dengan namanya.
Nurlina juga mengimbau kepada kaum wanita agar mengetahui sejak dini kanker serviks, sehingga bisa dicegah sejak awal. "Salah caranya dengan banyak mengikuti seminar tentang kanker rahim yang diselenggarakan Yayasan Kanker Indonesia," katanya.
Dia pun memeriksakan diri ke dokter ahli kandunganya dan dinyatakan kena kanker leher rahim atau kanker serviks stadium 2. Nurlina rajin berobat ke dokter. Biaya membeli obat per minggu jutaan rupiah, hanya saja tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Malah, dokter menyarankan agar rahimnya diangkat satu, karena sudah menyebar.
"Saya menolak saran dokter tersebut. Itu bukan berarti saya putus asa, saya berusaha mencari pengobatan alternatif. Ada seorang teman menyarankan berobat ke Ustadz H Kusmawan Amin di Jalan Sultan Adam," katanya.
Pada 2006, jelas ibu beranak satu ini, dia pun secara rutin mendatangi ustadz tersebut dan disuruh mengaji Alquran secara rutin tiap hari. "Saat mengaji, saya membacanya menghadap kiblat dan tidak boleh bergerak walaupun digigit nyamuk. Saya juga diminta salat tahajud tiap malam. Setiap tahajud, saya berserah diri dan meminta yang terbaik maupun disembuhkan penyakitnya," paparnya.
Alhamdulillah, papar Nurlina, dengan mengaji Alquran secara rutin dan tak mengangkat satu rahimnya, saat diperiksa pada 2008, penyakit kanker leher rahim sudah sembuh. Di Alquran ternyata ada bermacam-macam cara pola penyembuhan penyakit dan disesuaikan dengan namanya.
Nurlina juga mengimbau kepada kaum wanita agar mengetahui sejak dini kanker serviks, sehingga bisa dicegah sejak awal. "Salah caranya dengan banyak mengikuti seminar tentang kanker rahim yang diselenggarakan Yayasan Kanker Indonesia," katanya.
sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar