29 Jun 2013

waspada kanker serviks

~ keterkaitan wanita dengan angka kematian ~



kanker serviks merupakan penyebab utama kematian perempuan di negara berkembang. Menurut data Globocan 2002, terdapat 40.000 kasus baru kanker serviks dengan sekitar 22.000 kematian pada perempuan di Asia Tenggara. Indonesia di peringkat pertama dengan 15.050 kasus baru dan kematian 7.566 jiwa dalam setahun. Angka itu tak jauh berubah, bahkan meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.


Apa itu kanker serviks? 

Kanker serviks adalah penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim. Letaknya antara rahim (uterus) dengan liang senggama wanita (vagina).
Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Berawal terjadi pada leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh penderita.
                                                                                                         
 Seberapa bahaya penyakit kanker serviks ini?

 Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks.
Sekitar 8000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks yang tertinggi di dunia. Mengapa bisa begitu berbahaya? Pasalnya, kanker serviks muncul seperti musuh dalam seimut. Sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut.

Apa sebenarnya penyebab kanker serviks ini?

 Pertama, kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan paling fatal.Akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan 18.
Kedua, selain disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.


Mari kenali apa saja gejala kanker serviks ini?

 Pada tahap awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang mudah diamati. Itu sebabnya, Anda yang sudah aktif secara seksual amat dianjurkan untuk melakukan tes pap smear setiap dua tahun sekali. Gejala fisik serangan penyakit ini pada umumnya hanya dirasakan oleh penderita kanker stadium lanjut.
Gejala kanker serviks tingkat lanjut :
  • munculnya rasa sakit dan perdarahan saat berhubungan intim (contact bleeding).
  • keputihan yang berlebihan dan tidak normal.
  • perdarahan di luar siklus menstruasi.
  • penurunan berat badan drastis.
  • Apabila kanker sudah menyebar ke panggul, maka pasien akan menderita keluhan nyeri punggung
  • juga hambatan dalam berkemih, serta pembesaran ginjal.
Bagaimana cara mendeteksinya?

Pap smear adalah metode pemeriksaan standar untuk mendeteksi kanker Serviks atau kanker leher rahim. Namun, pap smear bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi penyakit ini. Ada pula jenis pemeriksaan dengan menggunakan asam asetat (cuka).
Menggunakan asam asetat cuka adalah yang relatif lebih mudah dan lebih murah dilakukan. Jika menginginkan hasil yang lebih akurat, kini ada teknik pemeriksaan terbaru untuk deteksi dini kanker leher rahim, yang dinamakan teknologi Hybrid Capture II System (HCII).

Bagaimana mencegah kanker serviks?

Meski menempati peringkat tertinggi di antara berbagai jenis penyakit kanker yang menyebabkan kematian, kanker serviks merupakan satu-satunya jenis kanker yang telah diketahui penyebabnya. Karena itu, upaya pencegahannya pun sangat mungkin dilakukan. Yaitu dengan cara :
  • tidak berhubungan intim dengan pasangan yang berganti-ganti
  • rajin melakukan pap smear setiap dua tahun sekali bagi yang sudah aktif secara seksual
  • dan melakukan vaksinasi HPV bagi yang belum pernah melakukan kontak secara seksual
  • dan tentunya memelihara kesehatan tubuh

kisah seorang penderita kanker serviks

SEMULA Nurlina menganggap penyakit keputihan yang dialaminya hanya penyakit biasa dan tak mau memeriksa diri ke dokter atau berobat ke rumah sakit. Namun, lama kelamaan penyakit yang diderita semakin parah yang keluar tidak lagi warna putih tapi kuning dan terakhir berwarna hijau dan berbau. Usai melakukan hubungan intim dengan suami, terjadi pendarahan.  "Darah yang keluar sampai segenggam tangan dan itu terjadi 2002 lalu," katanya.
    Dia pun memeriksakan diri ke dokter ahli kandunganya dan dinyatakan kena kanker leher rahim atau kanker serviks stadium 2. Nurlina rajin berobat ke dokter. Biaya membeli obat per minggu jutaan rupiah, hanya saja tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Malah, dokter menyarankan agar rahimnya diangkat satu, karena sudah menyebar.
    "Saya menolak saran dokter tersebut. Itu bukan berarti saya putus asa, saya berusaha mencari pengobatan alternatif. Ada seorang teman menyarankan berobat ke Ustadz H Kusmawan Amin di Jalan Sultan Adam," katanya.
    Pada 2006, jelas ibu beranak satu ini, dia pun secara rutin mendatangi ustadz tersebut dan disuruh mengaji Alquran secara rutin tiap hari. "Saat mengaji, saya membacanya menghadap kiblat dan tidak boleh bergerak walaupun digigit nyamuk. Saya juga diminta salat tahajud tiap malam. Setiap tahajud, saya berserah diri dan meminta yang terbaik maupun disembuhkan penyakitnya," paparnya.
    Alhamdulillah, papar Nurlina, dengan mengaji Alquran secara rutin dan tak mengangkat satu rahimnya, saat diperiksa pada 2008, penyakit kanker leher rahim sudah sembuh. Di Alquran ternyata ada bermacam-macam cara pola penyembuhan penyakit dan disesuaikan dengan namanya.
    Nurlina juga mengimbau kepada kaum wanita agar mengetahui sejak dini kanker serviks, sehingga bisa dicegah sejak awal. "Salah caranya dengan banyak mengikuti seminar tentang kanker rahim yang diselenggarakan Yayasan Kanker Indonesia," katanya.
 
sumber :
 

 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar