Telur
sumber protein terbaik sekaligus termurah. Namun, masih banyak yang anda perlu
ketahui lebih jauh tentang telur. Rasanya tak ada orang yang tak kenal bahan
makanan yang kaya protein ini. Hampir semua orang pernah menyantap dalam aneka
hidangan lezat, seperti nasi goreng, aneka kue, mie, dan sebagainya. Sedemikian
merakyatnya telur ini sampai ada begitu banyak mitos yang beredar dimasyarakat
mengenai telur. Sebagian ada yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah, namun tidak sedikit yang salah kaprah. Yuks kita bahas :
Telur omega3 bikin cerdas
Informasi
“bikin cerdas” ini tidak sepenuhnya salah karena kandungan omega dalam telur
omega3 memang 15x lipat lebih tinggi dibanding telur biasa. Mengapa demikian?
Tak lain karena untuk menghasilkan produk telur yang kaya akan kandungan asam
lemak omega3, pakan ayam petelurnya pun khusus. Asam lemak omega3 memang sangat
penting untuk kecerdasan. Itulah sebabnya, telur omega3 sangat baik dikonsumsi
balita. Namun harus diingat, kecerdasan seorang anak tidak hanya dipengaruhi
oleh factor nutrisi. Akan tetapi ditentukan oleh factor genetic dan sejauh mana
stimulasi yang diberikan lingkungannya. Ketiga factor ini saling menguatkan
satu sama lain.
Selain
itu, telur jenis ini juga memiliki kandungan kolesterol yang rendah. Ini karena
kandungan telur omega3 antara lain lemak tak jenuh yang mampu menurunkan kadar
kolesterol. Perlu diketahui, kadar kolesterol yang tinggi potensial menimbulkan
sumbatan pada pembuluh darah. Sumbatan inilah yang akan menyebabkan terjadinya
serangan jantung maupun stroke. Hingga tidak berlebihan bila dikatakan telur
omega3 merupakan pilihan makanan yang sangat cocok untuk mencegah penyakit
jantung. Kandungan omega3-nya pun mampu memperkuat otot-otot jantung.
Putih telur sebaiknya dibuang
Ditinjau
dari kandungan gizinya, kuning telur memang lebih baik daripada putih telur.
Semua jenis protein, kolesterol, lemak, vitamin A yang terkandung dikuning
telur tidak dimiliki oleh putih telur. Selain itu, dalam kondisi mentah, putih
telur memang bisa menghambat proses penyerapan vitamin A. Namun meski kandungan gizinya tidak sebaik bagian kuning,
putih telur tetap layak dikonsumsi, asalkan dimasak matang. Lagi pula putih
telur bisa dijadikan olahan lezat lainnya seperti kue. Sayang bukan jika
dibuang?
Telur ayam kampung lebih baik daripada
telur ayam negeri
Telur
ayam kampung memang lebih baik karena mengandung asam amino yang lebih baik dan
sekaligus lebih tinggi dibanding ayam ras maupun ayam negeri. Inilah yang
menyebabkan semua kandungan gizi pada ayam telur kampung biasa diserap tubuh
dengan lebih baik. Meski begitu, dari segi kandungan gizi, seperti lemak, tidak
ada perbedaan mencolok antara telur ayam kampung dan ayam ras maupun ayam
negeri.
Telur merupakan makanan terbaik setelah
susu
Semua
makanan mengandung protein tinggi atau rendah dalam 100 gramnya tergantung
kadar airnya. Artinya, mengkonsumsi susu sebanyak 100 cc dibanding telur ayam
100 gram, tentu saja nilai gizinya lebih baik telur ayam. Ini karena susu lebih
banyak mengandung kadar air daripada telur. Sebagai gambaran, susu mengandung
protein sekitar 3%, sedangkan telur sekitar 12%. Padahal harga 100cc susu
relative jauh lebih mahal ketimbang 100 gram telur. Apalagi jika dibandingkan
dengan daging. Karena itu, telur merupakan sumber protein hewani yang terbaik
sekaligus termurah.
Jangan makan telur setiap hari
Cukup
banyak orang tua yang tak memperbolehkan anaknya mengkonsumsi telur setiap
hari. Mereka khawatir gara-gara hobi makan telur, kadar kolesterol dalam darah
anaknya meningkat secara drastis dan menimbulkan gangguan/penyakit serius.
Pandangan ini tentu saja keliru, apalagi jika diterapkan pada anak-anak
Indonesia. Pasalnya, pola makan mayoritas anak Indonesia masih kurang bagus
karena jarang minum susu, sementara makan daging pun belum tentu seminggu
sekali. Nah, kalau telur pun dijauhi, maka sangat mungkin kekurangan gizi bakal
menjadi masalah serius bagi generasi penerus.
Ini
tentu amat sangat berbeda dengan kondisi anak sebaya di Negara-negara maju yang
dalam menu sehari-harinya sering tersaji steak atau olahan daging lainnya dan
secara teratur minum susu. Tak heran jika ada yang membatasi konsumsi telur
hanya 4 butir dalam seminggu. Yang penting diingat, masa kanak-kanak merupakan
masa pertumbuhan. Agar tumbuh kembangnya optimal, kecukupan asupan nutrisi yang
baik tentu saja harus diperhatikan. Selain itu, kalau asupan gizinya kurang
baik bukan tidak mungkin kecerdasannya tak berkembang semestinya.
Masalah
kolesterol umumnya justru banyak muncul kala seseorang berumur 40 tahun keatas
dan bukan diusia anak. Ini bisa dimaklumi karena diusia tersebut biasanya
hidupnya lebih makmur. Mereka inilah yang justru harus membatasi asupan makanan
yang mengandung kadar kolesterol tinggi. Kalau tidak, mereka akan terancam oleh
gangguan jantung dan sejenisnya yang amat jarang dialami oleh anak-anak.
Kalaupun ada, biasanya bukan karena hobi makan telur, melainkan kerena factor
genetic.
Telur hambat kepikunan
Kepikunan
terjadi karena sel-sel otak mengalami kelaparan glukosa ataupun oksigen.
Glukosa ini didapat dari sumber karbohidrat seperti nasi atau roti dan bukan
dari protein seperti telur. Dengan demikian tidak ada kaitannya antara konsumsi
telur dan kepikunan. Itulah mengapa, dengan sarapan nasi atau roti, otak
seseorang akan lebih siap untuk bekerja. Selain itu, kepikunan juga terjadi
jika kekurangan asupan oksigen. Entah karena aliran pembuluh darahnya banyak
yang tersumbat atau sebab lain. Aliran darah yang terhambat inilah yang membuat
individu bersangkutan sulit mencerna informasi.
Telur merupakan kondisioner yang baik
Kondisioner
memang ada kaitannya dengan protein dan zinc seperti yang banyak diiklankan
oleh banyak produk shampo. Kurangnya asupan protein akan memunculkan gangguan
dan aneka masalah rambut, dari rambut rontok, bercabang, kemerah-merahan, mudah
patah, dan sebagainya. Tidak heran bila orang yang melakukan diet ketat dengan
membatasi asupan lemak dan protein, rambutnya jadi gampang rontok. Karena itu,
konsumsilah telur supaya rambut sehat dan kuat. (reff: Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS dari departemen gizi masyarakat, institut
pertanian bogor)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar