5 Jan 2014

kecerdasan emosional



Mungkin kita pernah mendengar apa itu kecerdasan emosional ?, contoh : apabila bertemu dengan orang “keep your eyes contact”, artinya tatap matanya agar diberi perhatian, itu adalah kecerdasan emosional, contoh kedua : disaat kita melihat seseorang yang baru bertemu, maka jangan menatap dengan tajam, tetapi tataplah dengan lembut dan tersenyum, ini adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, kesadaran, serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya. Kecerdasan emosi dapat juga diartikan sebagai kemampuan mental yang membantu kita mengendalikan dan memahami perasaan-perasaan kita dan orang lain yang menuntut kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan tersebut.

Goleman (1999) menjelaskan bahwa kecerdasan emosional tersebut meliputi lima keterampilan yang terdiri dari hal-hal : mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain yang berupa empati, dan membina hubungan. Bahkan goleman (1999) menyatakan bahwa setinggi-tingginya IQ hanya menyumbang kira-kira 20% bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, sementara 80% diisi oleh kekuatan-kekuatan lain, termasuk EQ. berdasarkan pengalaman, apabila suatu masalah menyangkut pengambilan keputusan dan tindakan, aspek perasaan sangat penting dan sering kali lebih penting dari pada nalar. 

Pertanyaannya, sejauh mana kecerdasan emosional kita?, untuk mengetahui kelima unsur diatas dapat dijadikan barometer untuk mengukur apakah kita termasuk orang yang cerdas secara emosi. Berikut ini adalah hal-hal spesifik yang perlu dipahami dan dimiliki oleh orang-orang yang cerdas secara emosi :
Mengatasi stress
Stress adalah tekanan yang timbul akibat beban hidup. Stress dapat dialami oleh siapa saja. Toleransi terhadap stress merupakan kemampuan untuk bertahan terhadap peristiwa-peristiwa buruk dan situasi penuh tekanan tanpa menjadi hancur. Ini berati mengelola stress dengan positif dan merubahnya menjadi pengaruh yang baik.

Orang yang cerdas secara emosional mampu menghadapi kesulitan hidup dengan kepala tegak, tegar dan tidak hanyut dalam emosi yang kuat. Cenderung menghadapi semua hal, bukannya lari dan menghindar. Dapat megelakkan pukulan sehingga tidak hancur dan tetap terkendali. Mungkin sesekali terjatuh namun tidak terpuruk sehingga dapat berdiri tegak kembali.

Mengendalikan dorongan hati
Merupakan karakteristik emosi untuk menunda kesenangan sesaat untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Hal ini sering juga disebut “Manahan diri”. Orang yang cerdas secara emosi tidak memakai prinsip “harus memiliki segalanya saat itu juga”. Mengendalikan dorongan hati merupakan salah satu seni bersabar dan menukar rasa sakit atau kesulitan saat ini dengan kesenangan yang jauh lebih besar dimasa yang akan datang. Kecerdasan emosi penuh dengan perhitungan.

Mengelola suasana hati
Merupakan kemampuan emosional yang meliputi kecakapan untuk tetap tenang dalam suasana apapun, menghilangkan kegelisahan yang timbul mengatasi kesedihan atau berdamai dengan sesuatu yang menjengkelkan. Orang yang cerdas secara emosi tidak berada dibawah kekuasaan emosi. Mereka akan tetap kembali bersemangat apapun situasi yang menghadang dan tahu cara menenangkan diri.

Mengelola perasaan hati bukan berati menekan persaan. Menurut aristoteles, marah itu mudah, tetapi untuk marah pada orang yang tepat, tingkat yang tepat , tujuan dan dengan cara yang tepat, hanya bisa dilakukan oleh orang –orang yang cerdas secara emosi. Ketiga hal tersebut diatas, merupakan kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi-emosi diri sendiri yang harus dimiliki oleh orang-orang yang dikatakan cerdas secara emosi.

Memotivasi diri
Orang dengan keterampilan ini cenderung sangat produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka hadapi. Ada banyak cara untuk memotivasi diri sendiri antara lain dengan banyak membaca buku atau artikel-artikel positif, “selftalk”, tetap focus pada impian-impian, evaluasi diri dan sebagainya.

Memahami orang lain
Menyadari dan menghargai perasaan-perasaan orang lain adalah hal terpenting dalam kecerdasan emosi. Hal ini juga bisa disebut dengan “empati”. Empati juga bisa berarti melihat dunia dari mata orang lain. Ini berarti juga dapat membaca dan memahami emosi-emosi orang lain.
Memahami persaaan orang lain tidak harus mendikte tindakan kita. Menjadi pendengar yang baik tidak harus setuju dengan apapun yang kita dengar. Keuntungan dari memahami orang lain adalah kita lebih banyak mempunyai pilihan tentang cara bersikap dan memiliki peluang lebih baik untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan orang lain.

Keterampilan social
Memiliki perhatian mendasar terhadap orang lain. Orang yang mempunyai kemampuan social dapat bergaul dengan siapa saja, menyenangkan dan tenggang rasa terhadap orang lain yang berbeda dengan dirinya. Perilaku seperti itu memerlukan harga diri yang tinggi, yaitu: menerima diri sendiri apa adanya, tidak perlu membuktikan apapun ( baik pada diri sendiri maupun orang lain), bahagia dan puas pada diri sendiri apapun keadaannya.

Keterampilan social erat hubungannya dengan keterampilan menjalin hubungan dengan orang lain. Orang yang cerdas secara emosi mampu menjalin hubungan social dengan siapa saja. Orang lain senang berada disekitar mereka dan merasa bahwa hubungan ini berharga dan menyenangkan. Ini berati kedua belah pihak dapat menjadi diri mereka sendiri. Orang dengan kecerdasan emosi yang tinggi bisa membuat orang lain merasa tentram dan nyaman berada didekatnya mereka menebar kehangatan dan keterbukaan atau transparansi dengan cara yang tepat. Anda termasuk orang yang cerdas secara emosi? Anda dan orang-orang disekitar anda-lah yang tahu.

Reff: Amalia U. Sarjuno, S.Pd, M.Si Psi (anggota IKKT )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar