Mungkin
kita pernah mendengar apa itu kecerdasan emosional ?, contoh : apabila bertemu
dengan orang “keep your eyes contact”, artinya tatap matanya agar diberi
perhatian, itu adalah kecerdasan emosional, contoh kedua : disaat kita melihat
seseorang yang baru bertemu, maka jangan menatap dengan tajam, tetapi tataplah
dengan lembut dan tersenyum, ini adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan
emosional meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, kesadaran, serta pemahaman
tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya. Kecerdasan
emosi dapat juga diartikan sebagai kemampuan mental yang membantu kita
mengendalikan dan memahami perasaan-perasaan kita dan orang lain yang menuntut
kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan tersebut.
Goleman
(1999) menjelaskan bahwa kecerdasan emosional tersebut meliputi lima
keterampilan yang terdiri dari hal-hal : mengenali emosi diri, mengelola emosi,
memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain yang berupa empati, dan
membina hubungan. Bahkan goleman (1999) menyatakan bahwa setinggi-tingginya IQ
hanya menyumbang kira-kira 20% bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam
hidup, sementara 80% diisi oleh kekuatan-kekuatan lain, termasuk EQ.
berdasarkan pengalaman, apabila suatu masalah menyangkut pengambilan keputusan
dan tindakan, aspek perasaan sangat penting dan sering kali lebih penting dari
pada nalar.
Pertanyaannya,
sejauh mana kecerdasan emosional kita?, untuk mengetahui kelima unsur diatas
dapat dijadikan barometer untuk mengukur apakah kita termasuk orang yang cerdas
secara emosi. Berikut ini adalah hal-hal spesifik yang perlu dipahami dan
dimiliki oleh orang-orang yang cerdas secara emosi :
Mengatasi
stress
Stress adalah tekanan
yang timbul akibat beban hidup. Stress dapat dialami oleh siapa saja. Toleransi
terhadap stress merupakan kemampuan untuk bertahan terhadap peristiwa-peristiwa
buruk dan situasi penuh tekanan tanpa menjadi hancur. Ini berati mengelola
stress dengan positif dan merubahnya menjadi pengaruh yang baik.
Orang yang cerdas secara
emosional mampu menghadapi kesulitan hidup dengan kepala tegak, tegar dan tidak
hanyut dalam emosi yang kuat. Cenderung menghadapi semua hal, bukannya lari dan
menghindar. Dapat megelakkan pukulan sehingga tidak hancur dan tetap
terkendali. Mungkin sesekali terjatuh namun tidak terpuruk sehingga dapat
berdiri tegak kembali.
Mengendalikan dorongan hati
Merupakan
karakteristik emosi untuk menunda kesenangan sesaat untuk mendapatkan hasil
yang lebih baik. Hal ini sering juga disebut “Manahan diri”. Orang yang cerdas
secara emosi tidak memakai prinsip “harus memiliki segalanya saat itu juga”.
Mengendalikan dorongan hati merupakan salah satu seni bersabar dan menukar rasa
sakit atau kesulitan saat ini dengan kesenangan yang jauh lebih besar dimasa
yang akan datang. Kecerdasan emosi penuh dengan perhitungan.
Mengelola
suasana hati
Merupakan kemampuan
emosional yang meliputi kecakapan untuk tetap tenang dalam suasana apapun,
menghilangkan kegelisahan yang timbul mengatasi kesedihan atau berdamai dengan
sesuatu yang menjengkelkan. Orang yang cerdas secara emosi tidak berada dibawah
kekuasaan emosi. Mereka akan tetap kembali bersemangat apapun situasi yang
menghadang dan tahu cara menenangkan diri.
Mengelola perasaan hati
bukan berati menekan persaan. Menurut aristoteles, marah itu mudah, tetapi
untuk marah pada orang yang tepat, tingkat yang tepat , tujuan dan dengan cara
yang tepat, hanya bisa dilakukan oleh orang –orang yang cerdas secara emosi.
Ketiga hal tersebut diatas, merupakan kemampuan untuk memahami dan mengelola
emosi-emosi diri sendiri yang harus dimiliki oleh orang-orang yang dikatakan
cerdas secara emosi.
Memotivasi diri
Orang dengan
keterampilan ini cenderung sangat produktif dan efektif dalam hal apapun yang
mereka hadapi. Ada banyak cara untuk memotivasi diri sendiri antara lain dengan
banyak membaca buku atau artikel-artikel positif, “selftalk”, tetap focus pada
impian-impian, evaluasi diri dan sebagainya.
Memahami
orang lain
Menyadari dan menghargai
perasaan-perasaan orang lain adalah hal terpenting dalam kecerdasan emosi. Hal
ini juga bisa disebut dengan “empati”. Empati juga bisa berarti melihat dunia
dari mata orang lain. Ini berarti juga dapat membaca dan memahami emosi-emosi
orang lain.
Memahami persaaan orang
lain tidak harus mendikte tindakan kita. Menjadi pendengar yang baik tidak
harus setuju dengan apapun yang kita dengar. Keuntungan dari memahami orang
lain adalah kita lebih banyak mempunyai pilihan tentang cara bersikap dan
memiliki peluang lebih baik untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan
orang lain.
Keterampilan social
Memiliki perhatian
mendasar terhadap orang lain. Orang yang mempunyai kemampuan social dapat
bergaul dengan siapa saja, menyenangkan dan tenggang rasa terhadap orang lain
yang berbeda dengan dirinya. Perilaku seperti itu memerlukan harga diri yang
tinggi, yaitu: menerima diri sendiri apa adanya, tidak perlu membuktikan apapun
( baik pada diri sendiri maupun orang lain), bahagia dan puas pada diri sendiri
apapun keadaannya.
Keterampilan social
erat hubungannya dengan keterampilan menjalin hubungan dengan orang lain. Orang
yang cerdas secara emosi mampu menjalin hubungan social dengan siapa saja.
Orang lain senang berada disekitar mereka dan merasa bahwa hubungan ini
berharga dan menyenangkan. Ini berati kedua belah pihak dapat menjadi diri
mereka sendiri. Orang dengan kecerdasan emosi yang tinggi bisa membuat orang
lain merasa tentram dan nyaman berada didekatnya mereka menebar kehangatan dan
keterbukaan atau transparansi dengan cara yang tepat.
Anda termasuk orang yang cerdas secara emosi? Anda dan orang-orang disekitar
anda-lah yang tahu.
Reff:
Amalia U. Sarjuno, S.Pd, M.Si Psi (anggota IKKT )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar